h1

Makin Kaya di Negara Miskin

Mei 7, 2008

Mobil-mobil cantik berbagai merek berseliweran di jalanan Jakarta setiap hari hingga menyebabkan kemacetan. Sebagian merupakan tipe terbaru yang diimpor secara built up. Kondisi ini setel dengan suasana pusat-pusat perbelanjaan di Ibu Kota yang makin ramai. Situasi itu bisa jadi menggambarkan taraf hidup orang Indonesia yang makin makmur dan hedonis.

Dua lembaga keuangan asal Amerika Serikat, Merrill Lynch dan Capgemini, mengumumkan hasil survei mereka yang mengejutkan. Temuan yang diumumkan di Hong Kong, Selasa pekan lalu, itu mengungkapkan bahwa jumlah orang makmur di Indonesia meningkat cukup signifikan, mengalahkan negara-negara kaya. Jumlah orang tajir di Indonesia, dengan kekayaan di atas Rp 9 milyar, sampai penutupan tahun lalu berjumlah 20.000 orang. Ini berarti terjadi kenaikan 16,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Lonjakan jumlah orang kaya di Indonesia menempati posisi ketiga teratas di kawasan Asia-Pasifik. Posisi puncak ditempati negara kecil Singapura. Di negara mungil yang luasnya 60.000 kilometer persegi itu, milyardernya tumbuh sebesar 21,2% dengan jumlah 67.000 orang. Menyusul India di nomor dua, yang milyardernya bertambah sebesar 20,5% atau sejumlah 100.000 orang.

Singapura dan India selama ini digambarkan sebagai dua negara yang berhasil membangun ekonomi secara baik. Keduanya dicitrakan telah memasuki era kebangkitan ekonomi. Singapura dikenal berhasil mengembangkan sektor perdagangan, pelabuhan, dan transportasi. Di mata dunia, negara itu dikenal sebagai tempat investasi yang seksi. Sedangkan India berhasil memenangkan persaingan dalam bisnis teknologi informasi.

Posisi Indonesia di urutan ketiga lumayan mengejutkan, karena negara di Asia Tenggara ini merupakan salah satu korban krisis ekonomi terparah. Sejak pukulan krisis moneter, yang mulai melanda satu dekade silam, Indonesia belum berhasil berdiri tegak. Negara dengan 220 juta penduduk ini masih kedodoran dalam hal pemberantasan korupsi dan kesulitan menciptakan iklim investasi yang menarik. Namun temuan itu berbicara lain.

Hasil survei bertajuk “Asia-Pacific Wealth 2007” tersebut merupakan bagian dari World Wealth Report 2007, yang hasilnya telah dipaparkan di Paris, Juni lalu. Menurut sigi itu, jumlah orang kaya dengan aset di atas Rp 9 milyar tidak banyak. Temuan dua lembaga yang mengadakan riset selama satu tahun itu mengungkapkan, populasi orang tajir dengan kekayaan sebesar itu hanya 9,5 juta individu di dunia. Sebagian besar, tentu saja, berada di negara-negara maju.

Lembaga itu mendefinisikan orang kaya (high net worth individual —HNWI) sebagai pemilik kekayaan lebih dari US$ 1 juta atau sekitar Rp 9,2 milyar. Kekayaan itu dibatasi dalam bentuk aset finansial, seperti uang tunai, ekuitas, dan surat berharga, mengecualikan aset-aset lain seperti tempat tinggal atau koleksi pribadi semacam barang-barang seni, benda antik, atau koin emas.

Hasil sigi tersebut mengungkap pula bahwa orang-orang berduit di Indonesia dan negara Asia-Pasifik lainnya lebih senang menginvestasikan duit pada aset nyata (tangible asset), seperti properti, surat berharga, atau efek perusahaan properti (real estate investment trust –REIT). Menurut publikasi yang disebarkan Merrill Lynch, kenaikan jumlah orang makmur secara langsung akan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto dan kapitalisasi yang membangkitkan perekonomian lokal.

Sisi lain penelitian ini adalah fakta menyakitkan bahwa sepertiga dari 55.000 orang kaya di Singapura adalah pengusaha asal Indonesia. Jumlahnya mencapai 18.000 orang, yang kini berstatus warga asing yang mendapat izin tinggal permanen (permanent resident) di Singapura.

Lembaga keuangan global itu menaksir, nilai aset orang Indonesia di Singapura mencapai S$ 87 milyar atau sekitar Rp 506,8 trilyun. Selama ini, negara kecil seperti Singapura menikmati arus modal yang dilarikan dari Indonesia. Gelombang dana yang menyeberang ke negeri berlambang singa itu secara signifikan mendongkrak persentase pertumbuhan orang kaya mereka sebesar 21,2%, dengan jumlah 66.660 orang.

Sebuah angka spekulasi pernah beredar bahwa sepertiga dari 9.000 apartemen mewah yang dijual di Singapura adalah milik orang-orang kaya Indonesia. Orang kaya rupanya cenderung bergerak ke arah iklim investasi yang lebih menjanjikan menurut mereka. Eksodus orang kaya bukan hanya terjadi dari Indonesia ke Singapura. Temuan survei itu mengungkapkan fakta serupa bahwa lebih dari 150.000 jutawan asal India tinggal di luar negara di Asia Selatan itu. Mereka terutama memilih tempat baru di Eropa.

Dari segi jumlah, Jepang sejauh ini tetap menjadi tempat subur bagi sebagian besar milyarder ketimbang negara Asia-Pasifik lainnya. Namun, dari segi persentase, peningkatan mereka adalah yang terkecil di kawasan itu. Jumlah orang kaya di Jepang hanya meningkat 5,1% menjadi 1,477 juta orang pada 2006. Meski demikian, capaian ini jauh meninggalkan Cina Daratan. Dari segi kuantitas, negara yang jumlah penduduknya terbanyak di dunia itu mengalami pertumbuhan orang kaya sebesar 7,8%, dengan jumlah 345.000 orang saja.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development and Finance, Avilliani, mengungkapkan bahwa naiknya jumlah orang kaya di Tanah Air ternyata tidak mempengaruhi kemampuan sektor riil dalam menyerap tenaga kerja. Hal ini disebabkan kekayaan yang beredar hanya bergulir di pasar uang dan pasar modal. Sebagai bukti, naiknya jumlah orang kaya ini tidak secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya kemiskinan.

Melihat kondisi demikian, Aviliani menyimpulkan bahwa melonjaknya jumlah milyarder itu kurang bermanfaat terhadap negara, melainkan lebih pada individu saja. “Angka itu menunjukkan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” katanya kepada Gatra.

Faktanya, gemerlap mobil mewah yang kerap melenggang di jalanan Jakarta merupakan kemewahan yang tidak terjangkau masyarakat luas. Perlombaan kemewahan dan hedonisme sebagian kalangan di Tanah Air amat kontras dengan populasi orang miskin yang hingga Mei 2007 berjumlah sekitar 33 juta orang atau 16,5% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta orang. Masyarakat kelas menengah pun hanya mengisi kota-kota besar di Indonesia.

Sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di desa-desa masih tetap terpojok oleh struktur yang kurang memihak mereka. Negara juga masih terbelenggu utang luar negeri, yang jumlahnya mencapai Rp 1.500 trilyun.

(Gatra.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: