h1

Daftar Orang Kaya Indonesia Versi Forbes

Mei 7, 2008

Majalah bisnis Forbes Asia menetapkan Aburizal Bakrie, sekarang Menko Kesra, sebagai orang terkaya peringkat pertama dari 40 orang kaya Indonesia pada tahun ini dengan nilai kekayaan mencapai 5,4 miliar dolar AS dari tahun sebelumnya 1,2 miliar dolar AS.

Forbes dalam siaran persnya yang diterima ANTARA News di Jakarta, Kamis, menyebutkan, 10 besar dalam daftar orang kaya dan nilai kekayaannya sebagai berikut:

1. Aburizal Bakrie dan keluarga : 5,4 miliar dolar AS

2. Sukanto Tanoto (perusahaan April dan Asian Agri): 4,7 miliar AS

3. R. Budi Hartono (Djarum Kudus): 3,14 miliar dolar AS

4. Michael Hartono: 3,08miliar dolar AS (Budi Hartono dan Michael Hartono, dua saudara kandung yang memiliki saham di perusahaan rokok Djarum dan BCA)

5. Eka Tjipta Widjaja dan keluarga (Sinar Mas Group): 2,8 miliar dolar AS

6. Putera Sampoerna dan keluarga (Sampoerna Strategic): 2,2 miliar dolar AS

7. Martua Sitorus (Wilmar International): 2,1 miliar dolar AS

8. Rachman Halim dan keluarga (Gudang Garam): 1,6 miliar dolar AS

9. Peter Sondakh (Rajawali Group): 1,45 miliar dolar AS

10.Eddy William Katuari dan keluarga (Wings Group): 1,39 miliar dolar AS

Disebutkan dalam siaran pers, Forbes Asia dalam mendaftar nama-nama orang terkaya itu menggunakan nilai bersih dengan nilai saham dan nilai tukar pada 30 November. Sedangkan untuk perusahaan swasta yang belum terbuka dihitung dengan membandingkannya dengan perusahaan yang diperdagangkan secara terbuka.

Majalah Forbes Asia yang memuat daftar orang kaya itu akan diedarkan pada 24 Desember dengan gambar sampul depan Edwin Soeryadjaya yang memiliki nilai kekayaan 250 juta dolar AS dan menduduki ranking 29.(*)

(ANTARA News)

h1

Makin Kaya di Negara Miskin

Mei 7, 2008

Mobil-mobil cantik berbagai merek berseliweran di jalanan Jakarta setiap hari hingga menyebabkan kemacetan. Sebagian merupakan tipe terbaru yang diimpor secara built up. Kondisi ini setel dengan suasana pusat-pusat perbelanjaan di Ibu Kota yang makin ramai. Situasi itu bisa jadi menggambarkan taraf hidup orang Indonesia yang makin makmur dan hedonis.

Dua lembaga keuangan asal Amerika Serikat, Merrill Lynch dan Capgemini, mengumumkan hasil survei mereka yang mengejutkan. Temuan yang diumumkan di Hong Kong, Selasa pekan lalu, itu mengungkapkan bahwa jumlah orang makmur di Indonesia meningkat cukup signifikan, mengalahkan negara-negara kaya. Jumlah orang tajir di Indonesia, dengan kekayaan di atas Rp 9 milyar, sampai penutupan tahun lalu berjumlah 20.000 orang. Ini berarti terjadi kenaikan 16,2% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Lonjakan jumlah orang kaya di Indonesia menempati posisi ketiga teratas di kawasan Asia-Pasifik. Posisi puncak ditempati negara kecil Singapura. Di negara mungil yang luasnya 60.000 kilometer persegi itu, milyardernya tumbuh sebesar 21,2% dengan jumlah 67.000 orang. Menyusul India di nomor dua, yang milyardernya bertambah sebesar 20,5% atau sejumlah 100.000 orang.

Singapura dan India selama ini digambarkan sebagai dua negara yang berhasil membangun ekonomi secara baik. Keduanya dicitrakan telah memasuki era kebangkitan ekonomi. Singapura dikenal berhasil mengembangkan sektor perdagangan, pelabuhan, dan transportasi. Di mata dunia, negara itu dikenal sebagai tempat investasi yang seksi. Sedangkan India berhasil memenangkan persaingan dalam bisnis teknologi informasi.

Posisi Indonesia di urutan ketiga lumayan mengejutkan, karena negara di Asia Tenggara ini merupakan salah satu korban krisis ekonomi terparah. Sejak pukulan krisis moneter, yang mulai melanda satu dekade silam, Indonesia belum berhasil berdiri tegak. Negara dengan 220 juta penduduk ini masih kedodoran dalam hal pemberantasan korupsi dan kesulitan menciptakan iklim investasi yang menarik. Namun temuan itu berbicara lain.

Hasil survei bertajuk “Asia-Pacific Wealth 2007” tersebut merupakan bagian dari World Wealth Report 2007, yang hasilnya telah dipaparkan di Paris, Juni lalu. Menurut sigi itu, jumlah orang kaya dengan aset di atas Rp 9 milyar tidak banyak. Temuan dua lembaga yang mengadakan riset selama satu tahun itu mengungkapkan, populasi orang tajir dengan kekayaan sebesar itu hanya 9,5 juta individu di dunia. Sebagian besar, tentu saja, berada di negara-negara maju.

Lembaga itu mendefinisikan orang kaya (high net worth individual —HNWI) sebagai pemilik kekayaan lebih dari US$ 1 juta atau sekitar Rp 9,2 milyar. Kekayaan itu dibatasi dalam bentuk aset finansial, seperti uang tunai, ekuitas, dan surat berharga, mengecualikan aset-aset lain seperti tempat tinggal atau koleksi pribadi semacam barang-barang seni, benda antik, atau koin emas.

Hasil sigi tersebut mengungkap pula bahwa orang-orang berduit di Indonesia dan negara Asia-Pasifik lainnya lebih senang menginvestasikan duit pada aset nyata (tangible asset), seperti properti, surat berharga, atau efek perusahaan properti (real estate investment trust –REIT). Menurut publikasi yang disebarkan Merrill Lynch, kenaikan jumlah orang makmur secara langsung akan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto dan kapitalisasi yang membangkitkan perekonomian lokal.

Sisi lain penelitian ini adalah fakta menyakitkan bahwa sepertiga dari 55.000 orang kaya di Singapura adalah pengusaha asal Indonesia. Jumlahnya mencapai 18.000 orang, yang kini berstatus warga asing yang mendapat izin tinggal permanen (permanent resident) di Singapura.

Lembaga keuangan global itu menaksir, nilai aset orang Indonesia di Singapura mencapai S$ 87 milyar atau sekitar Rp 506,8 trilyun. Selama ini, negara kecil seperti Singapura menikmati arus modal yang dilarikan dari Indonesia. Gelombang dana yang menyeberang ke negeri berlambang singa itu secara signifikan mendongkrak persentase pertumbuhan orang kaya mereka sebesar 21,2%, dengan jumlah 66.660 orang.

Sebuah angka spekulasi pernah beredar bahwa sepertiga dari 9.000 apartemen mewah yang dijual di Singapura adalah milik orang-orang kaya Indonesia. Orang kaya rupanya cenderung bergerak ke arah iklim investasi yang lebih menjanjikan menurut mereka. Eksodus orang kaya bukan hanya terjadi dari Indonesia ke Singapura. Temuan survei itu mengungkapkan fakta serupa bahwa lebih dari 150.000 jutawan asal India tinggal di luar negara di Asia Selatan itu. Mereka terutama memilih tempat baru di Eropa.

Dari segi jumlah, Jepang sejauh ini tetap menjadi tempat subur bagi sebagian besar milyarder ketimbang negara Asia-Pasifik lainnya. Namun, dari segi persentase, peningkatan mereka adalah yang terkecil di kawasan itu. Jumlah orang kaya di Jepang hanya meningkat 5,1% menjadi 1,477 juta orang pada 2006. Meski demikian, capaian ini jauh meninggalkan Cina Daratan. Dari segi kuantitas, negara yang jumlah penduduknya terbanyak di dunia itu mengalami pertumbuhan orang kaya sebesar 7,8%, dengan jumlah 345.000 orang saja.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development and Finance, Avilliani, mengungkapkan bahwa naiknya jumlah orang kaya di Tanah Air ternyata tidak mempengaruhi kemampuan sektor riil dalam menyerap tenaga kerja. Hal ini disebabkan kekayaan yang beredar hanya bergulir di pasar uang dan pasar modal. Sebagai bukti, naiknya jumlah orang kaya ini tidak secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya kemiskinan.

Melihat kondisi demikian, Aviliani menyimpulkan bahwa melonjaknya jumlah milyarder itu kurang bermanfaat terhadap negara, melainkan lebih pada individu saja. “Angka itu menunjukkan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” katanya kepada Gatra.

Faktanya, gemerlap mobil mewah yang kerap melenggang di jalanan Jakarta merupakan kemewahan yang tidak terjangkau masyarakat luas. Perlombaan kemewahan dan hedonisme sebagian kalangan di Tanah Air amat kontras dengan populasi orang miskin yang hingga Mei 2007 berjumlah sekitar 33 juta orang atau 16,5% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta orang. Masyarakat kelas menengah pun hanya mengisi kota-kota besar di Indonesia.

Sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di desa-desa masih tetap terpojok oleh struktur yang kurang memihak mereka. Negara juga masih terbelenggu utang luar negeri, yang jumlahnya mencapai Rp 1.500 trilyun.

(Gatra.com)

h1

MEMAHAMI KEMISKINAN

Mei 7, 2008

Berbagai Pengertian

Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masakini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern.

Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropah. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas, pengangguran.

Amerika Serikat sebagai negara maju juga dihadapi masalah kemiskinan, terutama pada masa depresi dan resesi ekonomi tahun 1930-an. Pada tahun 1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan. Bahkan Amerika Serikat telah banyak memberi bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat sebanyak 32 juta orang atau seperenam dari jumlah penduduknya tergolong miskin.

Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya mempunyai 49,5 juta jiwa penduduk yang tergolong miskin (Survai Sosial Ekonomi Nasional / Susenas 1998). Jumlah penduduk miskin tersebut terdiri dari 17,6 juta jiwa di perkotaan dan 31,9 juta jiwa di perdesaan. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat banyaknya dibanding angka tahun 1996 (sebelum krisis ekonomi) yang hanya mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 7,2 juta jiwa di Perkotaan dan 15,3 juta jiwa perdesaan. Akibat krisis jumlah penduduk miskin diperkirakan makin bertambah.

Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yakni kemiskinan alamiah dan karena buatan. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan “buatan” terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia, hingga mereka tetap miskin. Maka itulah sebabnya para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang melulu terfokus pada pertumbuhan ketimbang pemerataan.

Berbagai persoalan kemiskinan penduduk memang menarik untuk disimak dari berbagai aspek, sosial, ekonomi, psikologi dan politik. Aspek sosial terutama akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. Aspek ekonomi akan tampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar rendah, tabungan nihil, lemah mengantisipasi peluang. Dari aspek psikologi terutama akibat rasa rendah diri, fatalisme, malas, dan rasa terisolir. Sedangkan, dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, posisi lemah dalam proses pengambil keputusan.

Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untak memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya.

Lebih lanjut, garis kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kemampuan masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. Melalui pendekatan sosial masih sulit mengukur garis kemiskinan masyarakat, tetapi dari indikator ekonomi secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Sementara ini yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) untuk menarik garis kemiskinan adalah pendekatan pengeluaran.

Menurut data BPS hasil Susenas pada akhir tahun 1998, garis kemiskinan penduduk perkotaan ditetapkan sebesar Rp. 96.959 per kapita per bulan dan penduduk miskin perdesaan sebesar Rp. 72.780 per kapita per bulan. Dengan perhitungan uang tersebut dapat dibelanjakan untuk memenuhi konsumsi setara dengan 2.100 kalori per kapita per hari, ditambah dengan pemenuhan kebutuhan pokok minimum lainnya, seperti sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi. Angka garis kemiskinan ini jauh sangat tinggi bila dibanding dengan angka tahun 1996 sebelum krisis ekonomi yang hanya sekitar Rp. 38.246 per kapita per bulan untuk penduduk perkotaan dan Rp. 27.413 bagi penduduk perdesaan.

Banyak pendapat di kalangan pakar ekonomi mengenai definisi dan klasifikasi kemiskinan ini. Dalam bukunya The Affluent Society, John Kenneth Galbraith melihat kemiskinan di Amerika Serikat terdiri dari tiga macam, yakni kemiskinan umum, kemiskinan kepulauan, dan kemiskinan kasus. Pakar ekonomi lainnya melihat secara global, yakni kemiskinan massal/kolektif, kemiskinan musiman (cyclical), dan kemiskinan individu.
Kemiskinan kolektif dapat terjadi pada suatu daerah atau negara yang mengalami kekurangan pangan. Kebodohan dan eksploitasi manusia dinilai sebagai penyebab keadaan itu. Kemiskinan musiman atau periodik dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. Misalnya sebagaimana, sekarang terjadi di Indonesia. Sedangkan, kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap orang, terutama kaum cacat fisik atau mental, anak-anak yatim, kelompok lanjut usia.

Penanggulangan Kemiskinan

Bagaimana menangani kemiskinan memang menarik untuk disimak. Teori ekonomi mengatakan bahwa untak memutus mata rantai lingkaran kemiskinan dapat dilakukan peningkatan keterampilan sumber daya manusianya, penambahan modal investasi, dan mengembangkan teknologi. Melalui berbagai suntikan maka diharapkan produktifitas akan meningkat. Namun, dalam praktek persoalannya tidak semudah itu. Lantas apa yang dapat dilakukan?

Program-program kemiskinan sudah banyak dilaksanakan di berbagai negara. Sebagai perbandingan, di Amerika Serikat program penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi antar negara bagian, memperbaiki kondisi permukiman perkotaan dan perdesaan, perluasan kesempatan pendidikan dan kerja untuk para pemuda, penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi orang dewasa, dan pemberian bantuan kepada kaum miskin usia lanjut. Selain program pemerintah, juga kalangan masyarakat ikut terlibat membantu kaum miskin melalui organisasi kemasyarakatan, gereja, dan lain sebagainya.

Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan, seperti : pengembangan desa tertinggal, perbaikan kampung, gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh, terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997, melalui program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan.

Sedangkan, P2KP sendiri sebagai program penanggulangan kemiskinan di perkotaan lebih mengutamakan pada peningkatan pendapatan masyarakat dengan mendudukan masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif. Melalui partisipasi aktif ini dari masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran tidak hanya berkedudukan menjadi obyek program, tetapi ikut serta menentukan program yang paling cocok bagi mereka. Mereka memutuskan, menjalankan, dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program. Nasib dari program, apakah akan terus berlanjut atau berhenti, akan tergantung pada tekad dan komitmen masyarakat sendiri.

(http://www.pu.go.id – Ragnar Nurkse,1953)

h1

BBM naik 28,7%, penduduk miskin jadi 40 juta

Mei 7, 2008

Jika pemerintah memilih menaikkan harga BBM bersubdisi sebesar 28,7%, angka kemiskinan pada 2008 diperkirakan melonjak sampai 40 juta atau 18,04% dari jumlah penduduk di Indonesia.

Jumlah ini naik sebesar 1,88 juta dibandingkan angka kemiskinan pada 2007 (16,58% dari jumlah penduduk atau 37,7 juta jiwa). Angka ini jauh dari target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2008, yaitu angka kemiskinan turun menjadi 14,2% sampai 16% dengan pertumbuhan ekonomi 6,4%.

Hal ini dikemukakan Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Susanto menjelaskan hasil perhitungan LIPI mengenai pengaruh kenaikan harga BBM bersubdisi dengan angka kemiskinan di Indonesia, hari ini.

Dengan pertumbuhan ekonomi, 6,4%, jelasnya, angka kemiskinan diperkirakan dapat mencapai 37,11 juta jiwa, namun angka itu sulit dicapai jika kenaikan harga BBM bersubdisi tepat direalisasikan.

Dia merincikan jika kenaikan harga BBM diperkirakan menyebabkan pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 6%, sehingga angka kemiskinan diperkirakan mencapai 39,585 juta atau 18,04%.

Sebelumnya, dokumen pemerintah yang beredar di kalangan wartawan menyebutkan pemerintah berencana menaikkan harga BBM bersubsidi pada 1 Juni 2008, yaitu premium naik dari Rp4.500 per liter menjadi Rp6.000 per liter, solar dari Rp4.300 per liter menjadi Rp5.500 per liter, dan minyak tanah dari Rp2.000 per liter menjadi Rp2.300 per liter.

(web.bisnis.com)

h1

Penduduk Miskin di Indonesia

Mei 7, 2008

Garis Kemiskinan Nasional

Ukuran Garis Kemiskinan Nasional adalah jumlah rupiah yang diperlukan oleh setiap individu untuk makanan setara 2.100 kilo kalori per orang/hari dan untuk memenuhi kebutuhan nonmakanan berupa perumahan, pakaian, kesehatan, pendidikan, transportasi, dan aneka barang/jasa lainnya. Biaya untuk membeli 2.100 kilo kalori/hari disebut sebagai Garis Kemiskinan Makanan, sedangkan biaya untuk membayar kebutuhan minimum non-makanan disebut sebagai Garis Kemiskinan Non-Makanan. Mereka yang pengeluarannya lebih rendah dari garis kemiskinan disebut sebagai penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan atau penduduk miskin.

Standar kemiskinan yang digunakan BPS bersifat dinamis, disesuaikan dengan perubahan/pergeseran pola konsumsi agar realistis. Proporsi penduduk di bawah garis kemiskinan pada 1996 memiliki dua angka untuk menunjukkan berbedanya kriteria yang digunakan, yaitu standar 1996 dan standar 1998 (BPS, Statistik Indonesia 2002). Perubahan standar terjadi bukan hanya karena pergeseran pola konsumsi tetapi juga karena perluasan cakupan komoditas yang diperhitungkan dalam kebutuhan minimum, antara lain karena adanya
kewajiban belajar sembilan tahun.

Keadaan dan kecenderungan

Proporsi penduduk miskin. Seperti tampak pada Gambar 1.1, proporsi penduduk miskin—yaitu kelompok yang pengeluarannya di bawah Garis Kemiskinan Nasional—menurun dari 15,1 persen pada 1990 menjadi 11,3 persen pada 1996. Menggunakan garis kemiskinan baru—yang ditetapkan oleh pemerintah pada 1998 untuk mencerminkan perubahan standar hidup— proporsi penduduk miskin pada 1996 adalah 17,6 persen (Boks 1). Pada saat krisis ekonomi, penduduk miskin bertambah hingga menjadi 23,4 persen (1999) dan mulai turun kembali menjadi 18,2 persen pada 2002 dan 17,4 persen pada 2003. Proyeksi pada Gambar 1.2 menunjukkan bahwa Indonesia secara nasional akan berhasil mencapai target penurunan proporsi penduduk miskin menjadi 7,5 persen (setengah dari proporsi penduduk miskin tahun 1990). Pencapaian untuk masing masing provinsi akan membutuhkan kajian lebih lanjut (Tabel 1.1).

Gambar 1.1

Gambar 1.2

(MDG Indonesia)

h1

Zakat

Mei 7, 2008

Zakat (Pajak dalam Islam) adalah rukun ketiga dari rukun Islam. Secara harfiah Zakat berarti “Tumbuh”, “Berkembang”, “Menyucikan” atau “Membersihkan”. Sedangkan secara terminologi syari’ah, Zakat merujuk pada aktivitas memberikan sebagian kekayaan dalam jumlah dan perhitungan tertentu untuk orang-orang tertentu sebagaimana ditentukan.

Hukum Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat Islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah (seperti shalat, haji, dan puasa) yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur’an dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.

Macam-Macam Zakat

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Zakat Fitrah dan Zakat Maal

Zakat terbagi atas dua tipe yakni

  • Zakat Fitrah, zakat yang wajib dikeluarkan Muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.
  • Zakat Maal (Zakat Harta), mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak serta hasil kerja (profesi). Masing-masing tipe memiliki perhitungannya

Yang berhak menerima

  • Fakir – Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
  • Miskin – Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup.
  • Amil – Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat.
  • Muallaf – Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya
  • Hamba Sahaya yang ingin memerdekakan dirinya
  • Gharimin – Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya
  • Fisabilillah – Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb)
  • Ibnus Sabil – Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan.

Beberapa Faedah Zakat yaitu:

Faedah diniyah (segi agama)

  1. Dengan berzakat berarti telah menjalankan salah satu dari rukun Islam yang menghantarkan seorang hamba kepada kebahagiaan dan keselamatan dunia dan akhirat.
  2. Merupakan sarana bagi hamba untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Rabbnya, akan menambah keimanan karena keberadaannya yang memuat beberapa macam ketaatan.
  3. Pembayar zakat akan mendapatkan pahala besar yang berlipat ganda, sebagaimana firman Alloh Subhaanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS: Al Baqarah: 276). Dalam sebuah hadits yang muttafaq ‘alaih Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam juga menjelaskan bahwa shadaqah dari harta yang baik akan ditumbuhkan kembangkan oleh Alloh Subhaanahu wa Ta’ala berlipat ganda.
  4. Zakat merupakan sarana penghapus dosa, seperti yang pernah disabdakan Rasululloh Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam.

Faedah Khuluqiyah (Segi Akhlak)

  1. Menanamkan sifat kemuliaan, rasa toleran dan kelapangan dada kepada pribadi pembayar zakat.
  2. Pembayar zakat biasanya identik dengan sifat rahmah (belas kasih) dan lembut kepada saudaranya yang tidak punya.
  3. Merupakan realita bahwa menyumbangkan sesuatu yang bermanfaat baik berupa harta maupun raga bagi kaum muslimin akan melapangkan dada dan meluaskan jiwa. Sebab sudah pasti ia kan menjadi orang yang dicintai dan dihormati sesuai tingkat pengorbanannya.
  4. Di dalam zakat terdapat penyucian terhadap akhlak.

Faedah Ijtimaiyyah (Segi Sosial Kemasyarakatan)

  1. Zakat merupakan sarana untuk membantu dalam memenuhi hajat hidup para fakir miskin yang merupakan kelompok mayoritas sebagian besar negara di dunia.
  2. Memberikan support kekuatan bagi kaum muslimin dan mengangkat eksistensi mereka.Ini bisa dilihat dalam kelompok penerima zakat, salah satunya adalah mujahidin fi sabilillah.
  3. Zakat bisa mengurangi kecemburuan sosisal, dendam dan rasa dongkol yang ada dalam dada fakir miskin. Karena masyarakat bawah biasanya jika melihat mereka yang berkelas ekonomi tinggi menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu yang tidak bermanfaaat bisa tersulut rasa benci dan permusuhan mereka. Jikalau harta yang demikian melimpah itu dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan tentu akan terjalin keharmonisan dan cinta kasih antara si kaya dan si miskin.
  4. Zakat akan memacu pertumbuhan ekonomi pelakunya dan yang jelas berkahnya akan melimpah.
  5. Membayar zakat berarti memperluas peredaran harta benda atau uang, karena ketika harta dibelanjakan maka perputarannya akan meluas dan lebih banyak fihak yang mengambil manfaat.

Hikmah Zakat

Hikmah dari zakat antara lain:

  1. Mengurangi kesenjangan sosial antara mereka yang berada dengan mereka yang miskin.
  2. Pilar amal jama’i antara mereka yang berada dengan para mujahid dan da’i yang berjuang dan berda’wah dalam rangka meninggikan kalimat Allah SWT.
  3. Membersihkan dan mengikis akhlak yang buruk
  4. Alat pembersih harta dan penjagaan dari ketamakan orang jahat.
  5. Ungkapan rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan
  6. Untuk pengembangan potensi ummat
  7. Dukungan moral kepada orang yang baru masuk Islam
  8. Menambah pendapatan negara untuk proyek-proyek yang berguna bagi ummat.

Zakat dalam Al Qur’an

  • QS (2:43) (“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku'”.)
  • QS (9:35) (pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.”)
  • QS (6: 141) (Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan).
h1

Pengertian Mustahik

Mei 7, 2008

– Mustahik adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat atau infak/sedekah.
– Menurut hukum syarak mustahik terdiri dari 8 asnaf (golongan), yaitu

  • Fakir ialah orang yang tidak memiliki harta dan tidak mempunyai penghasilan layak yang memenuhi kebutuhan makan, pakaian, perumahan dan kebutuhan primer lainnya;
  • Miskin ialah orang yang memiliki harta dan mempunyai harta yang layak baginya, tetapi penghasilannya belum cukup untuk keperluan minimum bagi dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungjawabnya.
  • Amil Zakat ialah mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan pengumpulan dan pendayagunaan zakat, termasuk administrasi pengelolaan mulai dari merencanakan pengumpulan, mencatat, meneliti, menghitung, menyetor dan menyalurkan kepada mustahiknya;
  • Mualaf ialah golongan yang perlu dijinakkan hatinya kepada Islam atau lebih memantapkan keyakinannya kepada Islam;
  • Riqab ialah pembebasan budak belian dan usaha menghilangkan segala bentuk perbudakan;
  • Gorimin ialah orang yang mempunyai hutang untuk kemaslahatan dirinya sendiri dalam melaksanakan ketaatan dan kebaikan atau untuk kemaslahatan masyarakat;
  • Sabilillah ialah usaha dan kegiatan perorangan atau badan yang bertujuan untuk menegakkan kepentingan agama atau kemaslahatan umat;
  • Ibnusabil ialah orang lain untuk melintasi dari satu daerah ke daerah lain untuk melakukan perjalanan yang kehabisan bekalnya bukan untuk maksud maksiat tetapi demi kemaslahatan umum yang manfaatnya kembali kepada masyarakat dan agama Islam.

(BAZIS DKI Jakarta)